Press "Enter" to skip to content

Dari Pamulang Sampai Aceh

Pedalaman Aceh dijadikan sebagai kamp pelatihan kelompok bersenjata, diduga teroris. Gerombolan teroris Aceh ini ditengarai terkait dengan jaringan teroris Dulmatin yang digulung polisi di Pamulang, selatan Jakarta. Penyergapan di Pamulang menewaskan tiga lelaki, satu di antaranya disebut-sebut sebagai Dulmatin, gembong teroris internasional buronan Interpol dan CIA. Kawasan yang menggemparkan itu letaknya sekitar 15 kilometer arah timur Kota Jantho, ibu kota Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Dari Kota Banda Aceh hanya terpaut 75 kilometer arah timur. Karena lokasinya di pedalaman hutan dengan topografi perbukitan terjal, selama ini kawasan Krueng Linteung di Perbukitan Jalin itu luput dari perhatian masyarakat Aceh.

Apalagi, kawasan di Kecamatan Jantho itu merupakan daerah transmigrasi. Sebagian besar penduduknya warga transmigran dari sejumlah provinsi di luar NAD. Mereka hidup tenang sebagai petani. Namun, sejak 22 Februari lalu, daerah cukup subur yang sebagian wilayahnya masuk kawasan hutan lindung Jantho dan merupakan rangkaian Bukit Barisan itu mendadak geger dan membetot perhatian masyarakat luas di seantero Tanah Air.

Ternyata daerah yang tenang dan agak terpencil itu menjadi lokasi kamp pelatihan kelompok bersenjata yang diduga akan menebarkan aksi terorisme. Ketika digerebek aparat dari Kepolisian Resor (Polres) Aceh Besar pada tengah hari 22 Februari itu, kelompok bersenjata ini sedang melakukan latihan militer dan paramiliter. Mereka berjumlah sekitar 50 orang, disebutkan menggunakan senjata laras panjang.

“Pada saat anggota kami masuk, mendapat penyerangan,” ujar Kepala Kepolisian Daerah (Polda) NAD, Inspektur Jenderal Adityawarman. Mungkin, lantaran kelompok bersenjata itu tidak menduga bakal diserbu aparat Polri, penggerebekan yang berlangsung 14 jam hingga dini hari itu pun relatif lancar. Kawanan bersenjata kocar-kacir melarikan diri.

Polisi meringkus empat anggota kawanan itu. Mereka adalah Ismet Hakiki, 40 tahun, Zaki Rahmatullah, 37 tahun, Yudi Zulfahri, 27 tahun, dan Masykur Rahmat, 21 tahun. Dua tersangka yang disebut di awal adalah warga Pandeglang, Banten. Sedangkan dua tersangka lainnya masing-masing warga Banda Aceh dan warga Miruk, Aceh Besar.

Dalam penggerebekan yang menewaskan seorang warga akibat polisi salah tembak itu, diamankan sejumlah barang bukti, seperti sangkur, seragam militer mirip kepunyaan tentara dari negeri jiran Malaysia (pejabat Malaysia sudah membantah dugaan keterlibatan tentara mereka dalam pelatihan teroris di Aceh), sejumlah uang, tenda, dan kitab suci Al-Quran.

Polisi juga mengamankan buku-buku dan beberapa keping VCD, antara lain berisi perjuangan kaum tertindas. Satu di antara buku itu berjudul Mimpi Suci di Balik Jeruji Besi karangan Ali Gufron, salah satu pelaku bom Bali yang telah dieksekusi mati.

Dari bukti-bukti awal ini, polisi menduga, kawanan bersenjata itu adalah kelompok jaringan Jamaah Islamiyah (JI), yang diduga kuat terkait dengan kelompok Noor Din Mohd. Top. Pasca-kematian Noor Din, aksi gembong teroris asal Malaysia ini disebut-sebut diteruskan oleh Dulmatin, buron kasus bom Bali I.

Sehari berselang, 24 Februari, anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri bersama petugas Polda Aceh menangkap tiga tersangka di Desa Panca, Lembah Seulawah, Aceh Besar. Besoknya, ditangkap lagi empat anggota kelompok bersenjata di kawasan Saree, Kecamatan Lembah Seulawah. Polisi menyita sepucuk senjata M16, senjata rakitan, dan 17 butir peluru tajam.

Polisi juga mendapat laporan adanya sejumlah kawanan bersenjata berada di pedalaman Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen. Mereka diduga pelarian dari Aceh Besar. Melalui penyisiran, petugas Polres Bireuen menemukan sejumlah amunisi yang ditanam di sekeliling gubuk di sebuah ladang, 27 Februari lalu. Diperkirakan, kawanan bersenjata itu kabur meninggalkan persenjataannya.

Awalnya, polisi curiga terhadap bekas galian yang telah dirapikan itu. Setelah dilakukan penggalian, ditemukan ribuan amunisi senjata AK dan amunisi M16 yang dimasukkan ke dalam beberapa jeriken ukuran 2 kg, 5 kg, dan 25 kg. Ada pula yang disimpan dalam kaleng cat ukuran 25 kg dan botol air kemasan ukuran 1,5 liter.

Di situ pun ditemukan belasan magasin dan ransel. Sekitar 100 meter dari gubuk, ditemukan dua pucuk senjata AK yang disembunyikan di dalam semak-semak dekat ladang di pinggir jurang terjal. Polisi menemukan pula sejumlah pakaian loreng, baju koko, topi pet dan topi koplo, peci, serta tas pinggang. Juga sepatu bot, sepatu sport, tripod kamera, rompi, dan sebuah granat asap. Lalu ada buku doa dan buku tentang jihad.

***

Penyergapan di kawasan Jalin itu menjadi titik awal pengepungan dan penyergapan berikutnya yang lebih seru terhadap titik lokasi lainnya di Aceh Besar, yang diduga menjadi markas atau tempat persembunyian kawanan teroris itu. Razia juga digelar di sejumlah lokasi. Polisi mengerahkan personel gabungan lebih banyak, dikomando tim Densus 88 Mabes Polri.

Titik lokasi yang menjadi fokus pengepungan adalah kawasan Kemukiman Lamkabeu, Kecamatan Seulimeuem, Aceh Besar. Kawasan berjarak sekitar 20 kilometer dari Jalin ini dikepung polisi sejak 2 Maret lalu. Polisi menjadikan Masjid Al-Hidayah Lamkabeu sebagai base camp mereka.

Polisi meyakini, sebagian besar kawanan bersenjata yang digerebek di kawasan Jalin melarikan diri ke Kemukiman Lamkabeu di kaki Gunung Seulawah itu. Sebagian kecil diperkirakan melarikan diri ke pedalaman Jalin, juga ke Bireuen.

Dibandingkan dengan kawasan Krueng Linteung di Jalin yang jauh dari permukiman penduduk, kawasan Kemukiman Lamkabeu justru dikelilingi rumah penduduk. Kawasan ini pun lebih sempit bagi pergerakan kelompok bersenjata itu karena terletak di ceruk perbukitan. Di sebelah timur laut, sekitar 20 kilometer, berbatasan dengan laut lepas yang mengarah ke Selat Malaka.

Ketika digerebek pada Rabu malam 3 Maret lalu, mereka melakukan perlawanan gencar sebelum melarikan diri. Baku tembak pun berlangsung seru selama 22 jam, sejak pukul 21.00 hingga esoknya pukul 19.00. Kontak senjata ini menewaskan tiga anggota Brimob dan 11 lainnya terluka. Sedangkan dari pihak lawan jatuh satu korban jiwa.

Tiga anggota Brimob yang gugur itu adalah Brigadir Polisi Dua Darmansyah dan Brigadir Polisi Dua Hendrik Kusumo –keduanya anggota Brimob Polda NAD– serta Brigadir Satu Polisi Boas Waosiri, anggota Brimob Mabes Polri. Baku tembak ini lagi-lagi makan korban jiwa seorang warga setempat yang disebutkan terkena peluru nyasar dari kedua pihak.

Pasca-bentrokan senjata itu, aparat Polri memperketat pengepungan dan penyisiran. Tiga desa yang diduga menjadi sarang teroris, yakni Menasah Tunong, Iboh Tunong –keduanya di Aceh Besar– dan Padang Tiji yang berbatasan dengan Pidie, terus dikepung. Informasi yang diperoleh Gatra, kekuatan kelompok teroris di tiga desa itu cukup besar. Ada yang menyebutkan 50 orang, 100 orang, bahkan ada yang mengatakan lebih dari 200 orang.

Puluhan polisi bersenjata lengkap tampak siaga di pintu masuk tiga desa itu. Selain mengepung lokasi tadi, polisi juga meningkatkan sweeping terhadap warga yang melintas di jalan. Sebelumnya, ketika dilakukan sweeping di Padang Taji, Rabu pekan lalu, polisi menembak mati Abdullah bin Ismail, 30 tahun. Warga Lamtamot, Aceh Besar, ini kabur pada saat dilakukan razia. Polisi meyakini korban sebagai anggota kelompok bersenjata yang diburu.

Menurut Kadiv Humas Mabes Polri, Inspektur Jenderal Edward Aritonang, dari rangkaian penggerebekan dan penyisiran di Aceh Besar itu, polisi menangkap sejumlah tersangka, hingga total berjumlah 17 orang. Jumat pekan lalu, para tersangka diboyong ke tahanan Brimob Mabes Polri di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Sebagian tersangka dan rekan-rekannya yang masih dikejar diduga pernah mendapat pelatihan teroris di luar negeri, misalnya di Afghanistan.

***

Kapan persisnya kelompok bersenjata itu terdeteksi masuk Aceh? Kapolda NAD, Irjen Adityawarman, menduga bahwa mereka masuk secara bertahap sejak September 2009, tapi masih belum terpantau. Baru Januari lalu, gerak-gerik mereka mulai muncul ke permukaan. Antara lain, melakukan perampokan nasabah bank.

Pengendusan pun diintensifkan sampai akhirnya diketahui ada sekelompok orang berlatih perang-perangan di kawasan Jalin, Aceh Besar. Ada dugaan, kelompok ini memilih Aceh yang punya sejarah kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Mereka menilai Aceh sudah aman pasca-konflik kelompok separatis GAM dengan Pemerintah RI.

Lantas penyergapan pun dilakukan aparat polisi, disusul dengan serangkaian penyergapan dan penyisiran lainnya. Sempat merebak informasi bahwa kelompok teroris di Aceh itu sedang merancang serangan di Selat Malaka bersama jaringan teroris internasional. Targetnya adalah ratusan kapal tanker yang setiap hari melayari wilayah sepanjang 800 kilometer dan lebar 1,7 kilometer itu. Informasi ini dirilis angkatan laut Singapura, Kamis pekan lalu.

Polri masih menyelidiki kemungkinan itu. Yang jelas, pengembangan pengusutan di Jakarta menunjukkan, polisi mengantongi nama empat tersangka yang terkait dengan penangkapan teroris di Aceh. Keempat tersangka itu ditangkap di sekitar Jawa Barat dan Jakarta, Ahad lalu. Polisi tidak menyebutkan lokasi persis penangkapan itu, juga nama para tersangkanya.

Polisi hanya menyebut perannya dan inisial satu tersangka, ST. “Mereka terindikasi sebagai pemasok senjata, perekrut, dan penyandang dana,” kata Edward Aritonang kepada Gandhi Achmad dari Gatra. Namun Edward belum bersedia menjelaskan secara rinci.

Berikutnya, polisi mengantongi pula nama tersangka lain dan kemudian meringkusnya, Selasa siang lalu. Penggerebekan yang berujung tewasnya tiga tersangka ini dilakukan secara terbuka, disaksikan masyarakat dan ditayangkan televisi.

Seorang tersangka tewas dalam penggerebekan di sebuah warung internet di Jalan Siliwangi, Pamulang, Tangerang, selatan Jakarta. Dua tersangka teroris lainnya tewas dalam penggerebekan di rumah Fauzi di Gang Asem, Jalan Setiabudi, Pamulang.

Menurut polisi, tiga tersangka itu terpaksa ditembak lantaran melakukan perlawanan dan melarikan diri. “Mereka menyerang polisi terlebih dulu dengan senjata revolver,” kata Edward Aritonang dalam pertemuan pers, Selasa siang itu juga. Dua tersangka yang mencoba kabur menggunakan sepeda motor Suzuki Thunder juga ditembak. Tiga tersangka yang tewas itu berinisial YI alias M, BR, dan H.

Di tempat kejadian perkara (TKP) warung internet, polisi mengamankan seorang wanita dengan tiga anak. Di TKP rumah Fauzi, anggota jamaah pengajian Abu Jibril, diamankan dua orang berinisial BR alias AH dan SB alias I. Neni, istri Fauzi, hanya mengenal seorang di antaranya, yakni AH atau Abu Haikal. “Mereka yang tertangkap masih dalam pemeriksaan,” tutur Edward. Sedangkan terhadap ketiga jenazah itu, masih dilakukan identifikasi.

Salah satu jenazah disebut-sebut sebagai Dulmatin –yang punya nama alias Muktamar (M)– buronan kasus bom Bali I. Selama ini, Dulmatin disebut-sebut sebagai gembong teroris internasional buronan CIA, intelijen Amerika Serikat. Namun, kepastiannya masih menunggu hasil identifikasi.

Jika memang betul itu Dulmatin, berarti benarlah dugaan Gubernur NAD, Irwandi Yusuf, bahwa kelompok bersenjata di Aceh itu terkait dengan jaringan teroris Noor Din Mohd. Top. Dulmatin disebut-sebut menjadi penerusnya.

Meski jenazah itu belum terbukti sebagai Dulmatin, Irwandi tetap pada dugaannya. “Saya memperkirakan, ini jaringan Dulmatin,” kata Irwandi di Jakarta. Irwandi ke Ibu Kota untuk menggelar konferensi pers, menjelaskan bahwa kelompok teroris di Aceh bukanlah anggota GAM. Ia juga sependapat dengan Polri bahwa teroris di “tanah rencong” itu tidak terkait dengan jaringan Al-Qaeda atau jaringan internasional lainnya.

Masalah GAM sepertinya masih sangat peka, apalagi sampai dikaitkan dengan kelompok teroris. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dalam sidang kabinet terbatas di Jakarta, Jumat pekan lalu, juga menegaskan bahwa aktivitas kelompok bersenjata di Aceh pada saat ini dipimpin oleh orang dari luar Aceh dan bukan dari unsur GAM.

Pengamat intelijen dari Universitas Indonesia, Andy Widjajanto, sependapat bahwa kelompok teroris Aceh itu bukanlah kelompok sempalan GAM yang kecewa. “Tidak ada indikasi kekecewaan politik di tubuh GAM yang sekarang memerintah Aceh,” katanya kepada Lufti Avianto dari Gatra. Andy juga menampik dugaan pembersihan teroris itu terkait rencana kedatangan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, ke Indonesia.

Dynno Chressbon, Direktur Pusat Studi Intelijen dan Keamanan Nasional, memperkirakan bahwa kelompok bersenjata di Aceh itu merupakan kelompok yang dulu beraksi dalam organisasi JI dengan tokoh Dulmatin, yang kemudian berinteraksi dengan kelompok Republik Islam Aceh (RIA). Menurut Dyno, kelompok RIA yang dibesarkan kelompok milisi Abu Sayyaf di Filipina itu kecewa pada GAM yang dinilai telah sekuler.

Benarkah? Polisi masih menyelidiki segala teori dan kemungkinan itu

Comments are closed.