Press "Enter" to skip to content

Kita Warga Dunia

PENGHUJUNG Oktober 2016, saat pagi masih sangat muda. Pesawat yang saya tumpangi dari Jakarta, baru saja landing di Bandara Inchion, Korea Selatan. Bandara dengan desain arsitektur yang unik. Ribuan orang hilir mudik di bandar udara ini. Walau masih terlalu pagi kegiatan di bandara sangat padat sekali.

Sebagai salah satu bandara terbesar di Asia, Inchion, nyaris tidak pernah tertidur dan jauh dari sepi. Bandara ini milik Pemerintah Korea Selatan, di bawah pengelolaan Incheon Internasional Airport, di Jung-gu, Incheon, Korea Selatan.

Padatnya antrian di bagian imigrasi sebelum pindah pesawat dan terbang dari Seoul ke Jeju Island membuat saya terjebak delay yang sangat panjang. Khawatir tentu saja. Tapi apa boleh buat. Sampai giliran saya distop oleh bagian imigrasi, koper yang saya bawa harus dibuka dan diperiksa ulang. Saya cemas, bukan karena barang yang saya bawa, namun karena pesawat Korean Air yang saya tumpangi, akan take off 4 jam lagi. Saat itu waktu sudah menunjukkan jam 10 pagi. Pesawat yang saya akan tumpangi terjadwal jam 1 siang waktu Korea. Pindah pesawat memakan waktu.

Memilih berusaha tidak panik, saya pun dibawa menuju ruang petugas. Barang dibongkar, isinya adalah pakaian adat Aceh untuk laki-laki, lengkap kupiah meukeutop. Karena banyak pernak-pernik yang melekat dan ada yang tajam, membuat banyak pertanyaan diberikan petugas kepada saya. Saya memang akan berbicara dan perform di sebuah acara di Jeju Island, Korea Selatan. Saya memilih menggunakan pakaian adat Aceh, karena sedang bicara tentang manajemen pengetahuan untuk strategi industri kopi di Aceh.

Percakapan antara saya dan petugas bandara sangat alot. Mereka sangat disiplin dan tidak membolehkan saya membawa terbang 1 isi koper yang berisikan perlengkapan presentasi itu, sementara 1 koper lain berisi pakaian dibolehkan saya bawa. Bagaimana mungkin saya menerima.

Saya menjelaskan lagi dengan detail, bahwa pakaian ini yang akan saya gunakan keesokan harinya. Mereka memeriksa ulang paspor, mengecek visa dan mencocokkan foto saya. Memeriksa paspor. Lalu meminta saya menunjukkan id card alias KTP, sepertinya ingin mencocokkan data dan melihat nama lengkap dan jelas. Tak pernah rasanya saya menunjukkan KTP sepanjang pengalaman perjalanan ke luar negeri, kecuali di dalam negeri.

Saya berusaha tenang. Saya diminta untuk bergeser ke ruang pemeriksaan sebelah ruang pertama. Seorang laki-laki berperawakan tinggi, berwajah Melayu Asia, memeriksa semua data saya dengan teliti. Ia menyapa saya dengan ramah. Bertanya dengan gaya komunikasi yang sangat tenang.

Ia menyapa dengan Bahasa Indonesia, mempersilakan saya duduk dan memberikan satu botol air mineral dengan tulisan Bahasa Korea. Saya menyodorkan semua berkas paspor, visa dan id card, bahkan tiket dan boarding pass. Petugas itu bernama Ibrahim A. Saya membaca tulisan di dada kanan pada baju seragam putih biru yang ia pakai.

Tak lebih 3 menit berkas di tangannya, dia menyapa saya kembali dengan ramah. Di pat di Bireuen? Dalam rangka peu keu Korea? Peu ka keurija di Korea? Beberapa penggal pertanyaan dalam Bahasa Aceh yang tidak terlalu lancar membuat saya terperanjat kaget. Apa? Bireuen? Saya memang lahir di Bireuen. Kenapa ia menanyakan itu. Lalu saya menjawab, mengiyakan semua pertanyaannya. Lalu membalas jawab, Bapak dari Bireuen cit? Dia pun tertawa.

Setelah itu kami terlibat obrolan yang mengasyikkan. Saya yakin dia melihat kota kelahiran saya, Bireuen, pada berkas yang saya serahkan. Kami ngobrol, dan sayapun tahu huruf A sesudah nama Ibrahim itu adalah Ahmad. Bapak Ibrahim Ahmad. Umurnya 50 tahun. Singkat cerita, ia orang Bireuen yang merantau dan akhirnya bekerja di Korea sejak 1993. Saat Aceh masih dalam keadaan konflik. Ia sekolah dan menikah dengan muslimah Korea.

Kisah pertemuan ini membuat saya sadar, kita adalah manusia dunia, yang tidak boleh lupa tanah air tempat kita dilahirkan. Ketika remaja dan dewasa, hampir dari semua kita mengalami lompatan-lompatan unik dalam hidup. Umpan balik itu tak perlu menghilangkan kekuatan kita. Justru bisa menguatkan.
Siapa sangka hikmah diperiksanya lagi bagasi saya saat hendak transit dari Korea menuju Jeju Island, membuat saya bisa mojok, bernostalgia dengan seorang perantau unggul bernama Ibrahim Ahmad, seorang pekerja keras yang lahir dan menghabiskan masa remaja di Bireuen, Aceh lalu melanglangbuana ke Jepang dan Korea.

Semua berjalan apa adanya. Kami sempat ngobrol tentang banyak hal, keripik pisang, pisang sale, bahkan nagasari. Kuliner terkenal dari Bireuen, yang sangat digemari para pelancong, tidak terkecuali masyakatnya. Menjadi kota lintasan menuju dan dari kota lain menuju Ibukota Provinsi, Banda Aceh, membuat Bireuen sangat dikenal banyak orang. Ikan bandeng dan mie pangsit. Duh, langsung lapar membayangkannya. Tak terasa urusan saya lancar.Alhamdulillah.

Ketika telah selesai urusan imigrasi dan sudah berada dalam badan pesawat Korean Air, menuju Jeju Island, saya tiba-tiba terpikir Bireuen. Kota kelahiran saya. Dulu Bireuen adalah bagian Aceh Utara. Bireuen menjadi wilayah otonom sejak 12 Oktober tahun 1999 sebagai hasil pemekaran dari Aceh Utara. Kabupaten ini terkenal dengan julukan Kota Juang, namun sempat menjadi salah satu basis utama Gerakan Aceh (GAM) semenjak diberlakukannya darurat militer sejak bulan Mei 2003. Alhamdulillah, kini kembali normal. Kota Bireuen, telah berubah dengan cepat.

Saya teringat, sekitar tahun 2017-2018 saya pernah diundang untuk mendengarkan Kajian Daya Saing oleh Asia Competitiveness Institute (ACI), Lee Kuan Yew School of Public Policy (LKYSPP), National University of Singapore (NUS), terkait daya saing provinsi di Indonesia. Dalam laporan tersebut Aceh berada di posisi 12 dalam katagori Indonesia Provincial Competitiveness Ranking & Score Sub-environment Quality of Life and Infrastructure Development. Menariknya kontribusi Kota Bireuen cukup signifikan dengan tingkat perputaran uang yang cukup besar dalam sektor dagang setiap harinya.

Dari beberapa sahabat yang bekerja dan ditempatkan di Bireuen, mengakui, jika masyarakat kotanya sangat terbuka, pekerja keras dan memiliki ketangguhan yang luar biasa. Kita memang harus terbuka, bahwa semua industri dan bisnis di daerah-daerah sekarang sedang berjuang melawan industri dan bisnis baru yang masuk ke kota mereka tanpa mengikuti pola yang selama ini mereka kenal.

Saat ekonomi dunia berubah, dunia bisnis pun terdisrupsi tanpa bisa terelakkan lagi. Merasa tidak berdaya, banyak kota-kota yang menyerah dan memilih untuk tidak menghadapinya. Banyak yang terjebak bertarung di internal diri mereka, ketimbang berpikir dan berinovasi menghadapi lawan baru dinluar sana.

Di tengah terpaan perubahan yang tak bisa dibendung setiap hari, denyut Kota Bireuen terus menggema. Salah satu sumber daya yang penting dalam menggerakkan kota ini adalah arus informasi dalam memimpin kota. Banyak sektor UMKM yang tumbuh baik dan berkembang. Itulah sebabnya, pemimpin harus menghindari manajemen-mikro dan tetap terhubung dengan apa yang sedang terjadi dalam rangka untuk melihat perubahan dalam konteks masa depan. Mampu menangani secara mandiri masalah apapun yang mungkin timbul. Pemimpin harus membuat sebuah saluran komunikasi—yang anonim, jika perlu—yang memungkinkan kemajuan bisa lebih cepat dan berdaya-lama.

Penting untuk diingat bahwa praktek terbaik, menurut definisi, adalah praktek masa lalu. Menggunakan praktik terbaik adalah hal yang umum, dan seringnya sesuai, dalam konteks yang sederhana. Bagaimanapun, kesulitan tetap muncul, tapi mendukung keberhasilan yang sudah dilakukan para pejuang adalah lebih baik.

Saya teringat salah satu adegan di dalam fim Apollo 13 ketika para astronot menghadapi sebuah krisis yang mengubah situasi ke dalam sebuah domain kompleks. Sebuah kelompok yang terdiri dari para ahli memasuki sebuah ruangan dengan bahan campuran—potongan plastik dan berbagai bahan lainnya yang mencerminkan sumber daya yang tersedia bagi para astronot di dalam pesawat. Para pemimpin mengatakan kepada tim: Ini adalah apa yang Anda miliki; temukan sebuah solusi atau para astronot akan mati. Tidak ada satupun dari para ahli tersebut yang tahu solusi apa yang bisa bekerja. Tapi mereka mendapatkan sebuah solusi yang muncul dari material yang ada tangan mereka, dan mereka berhasil. Kondisi ketakutan sering menghasilkan sesuatu yang lebih kreatif dari kondisi normal.

Sekarang, teknologi memungkinkan kita semua mendapat manfaat dan belajar. Membuat kita lebih mudah untuk menemukan dan memilih kebaikan yang ingin kita buat, termasuk mengelola administrasi kota yang hebat. Untuk unggul dalam mengelola orang lain, harus membawa wawasan itu ke tindakan dan interaksi.
Selalu ingat bahwa pengelolaan yang hebat adalah tentang pelepasan, bukan transformasi. Ini tentang terus-menerus mengubah lingkungan sehingga kontribusi unik, kebutuhan unik, dan gaya unik setiap orang dapat diberikan kendali bebas.

Keberhasilan Anda sebagai pemimpin akan bergantung hampir sepenuhnya pada kemampuan Anda untuk melakukan ini. Saya yakin, Insya Allah Bireuen bisa melakukan itu dengan sempurna. Mengapa? Karena Bireuen daerah modal. Kalau Ibrahim Ahmad bisa berhasil di Korea, kenapa kita yang hidup di kampung halaman sendiri, tidak bisa berhasil?

Comments are closed.