Press "Enter" to skip to content

Lelaki dari “Negeri Lima Menara”

SEBUAH BUKU saya lihat di deretan Best Seller Gramedia sekitar hampir setahun yang lalu. buku itu berjudul Negeri Lima Menara. sekilas dari judulnya terlihat unik. pikiran saya menerawang dan menyangka ini buku tentang perjalanan sang penulis ke lima Negara. Ternyata tidak. Dugaan msaya melesat. Buku ini tentang kisah perjuangan penulis semasa sekolah di sebuah pesantren Madani. Penulis itu, Ahmad Fuadi.

AWAL PEBRUARI 2010 memasuki hitungan ke delapan. Suasana Jakarta hiruk pikuk dengan demo-demo ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah akibat kasus Bank Century yang tidak selesai sampai sekarang. Tanganku yang hampir sepuluh menit membaca sebuah novel, akhirnya berhenti dan menutup novel tersebut. Aku duduk di bangku paling belakang Trans Jakarta. Lima menit kemudian aku sampai di halte pemberhentian Ratu Plasa. Menelusuri jalan pintas dari belakang Ratu plasa, akupun sampai ditempat yang kutuju. Plasa Senayan

Ups.., waktu di jam tangan ku menunjukan pukul 13.45 menit. Hari itu tanggal 9 Pebruari 2010. Siang itu aku berjanji ketemu seseorang yang namanya sangat dibicarakan banyak orang. Bukan karena kasus, tapi karena prestasinya menulis Novel yang kini menjadi Best seller. Ahmad Fuadi

PUKUL 14.00 tepat BlackBerry ku berbunyi. Ahmad Fuadi calling, demikian terlihat di layar handphone pintar itu.

“Assalamualauikum Uda”, demikian sapa ku.

“Waalaikumsalam, sudah sampai di Plasa Senayan” demikian ungkapnya, membalas sapaan ku

“sudah Uda, saya berada tepat di taman tengah foodcort, lantai 2”, aku menjawab pertanyaanya.

Aku menunjukan tempat lewat teleponan itu, kami berjanji ketemu di depan gerai makanan jepang.
Sembari aku menutup telpon, aku melihat sosok lelaki yang muka nya persis seperti photo yang terpampang di halaman 419 novel Negeri Lima Menara. Tak salah lagi, ini pasti uda Fuad, aku membatin dalam hati

“Assalamualaikum, ini Hendra ya”, ia menyapaku ramah. Rasannya seperti ketemu dan sudah berteman lama.

“Waalaikumsalam, ia Uda. Saya Hendra”, kataku sambil mengulurkan tangan untuk berjabat.

Alhamduliullah, akhirnya ketemu juga, katanya tegas. Ia Alhamdulillah, kataku.

(kami berdua larut ngobrol hal-hal yang bermanfaat dan sangat membangun semangat saya)

Aku memanggilnya Uda, cukup beralasan. Ia seorang laki-laki yang berasal dari Sumatera Barat. Sebutan Uda, adalah panggilan hormat untuk laki-laki yang lebih tua dari saya. Saya sendiri punya keterikatan dengan Padang. Ayah angkat saya, M. Jamal, berasal dari Padang, dan hingga kini masih tinggal di Padang. Saya sendiri pernah beberapa kalai dalam waktu yang lama berkunjung ke Padang, untuk beberapa pekerjaan

***

Kepadaku, Uda Ahmad Fuadi, penulis Negeri Lima Menara, mengaku tidak pernah mengira novel yang ditulisnya itu akan mendapat tanggapan positif dari masyarakat.

“Saya tidak mengira respons masyarakat akan sebaik ini,” kata nya

Semenjak diluncurkan pada Juli 2009, Ia mengaku sudah mendapatkan banyak undangan bedah buku yang datang dari berbagai daerah.

“Saya mendapatkan undangan bedah buku dari berbagai daerah seperti Bogor, Bandung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan dan lain sebagainya,” katanya.

Ia menjelaskan, pihak yang mengundangnya dalam acara bedah buku ingin mengupas tuntas mengenai novel Negeri Lima Menara yang ditulisnya.

“Novel Negeri Lima Menara dianggap memiliki pesan moral yang inspiratif bagi sebagian orang yang membacanya,” katanya.

Ia pun bercerita, novel tersebut diangkat dari kisah nyata perjalanan hidupnya yang pernah menjalani pendidikan di pondok pesantren hingga akhirnya berhasil meraih mimpi-mimpinya.

“Novel ini mengandung banyak pesan untuk tidak takut bermimpi setinggi-tingginya soal masa depan,” katanya.

Novel Negeri Lima Menara merupakan buku pertama dari sebuah trilogi, dan buku keduanya masih dalam proses penulisan. (Uda Fuad menceritakan banyak hal dan cerita-cerita yang menarik, dalam Novel kedua dan ketiga yang tengah ia selesaikan)

Sekedar diketahui, Uda Ahmad Fuadi merupakan mantan wartawan Tempo dan VOA dan kini menjadi direktur komunikasi di sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang konservasi. Ia merupakan alumni pondok pesantren Gontor, lalu melanjutkan kuliah di UNPAD dan pernah mendapatkan beasiswa S2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University.

“Melalui novel Negeri Lima Menara ini saya ingin mengajak generasi muda untuk tidak meremehkan impian walau setinggi apapun, terutama soal pendidikan dan masa depan,” katanya. Novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi dalam enam bulan terakhir telah dicetak sebanyak 80.000 eksemplar.

“Ada 80.000 eksemplar yang dicetak dalam enam bulan,” kata penulis novel Negeri 5 Menara, katanya pada ku

Ia tidak pernah mengira novel yang ditulisnya itu akan mendapat tanggapan positif dari masyarakat.
Bahkan, para pembaca yang tergabung dalam komunitas 5 menara telah menunjukkan eksistensinya dengan menyalurkan bantuan untuk pembangunan kembali sekolah yang runtuh akibat gempa di Kota Pariaman, Sumatera Barat.

“Proses pembangunan sedang berlangsung dan akan diresmikan tengah Februari ini,” katanya.
Novel tersebut diterbitkan pertama kalinya pada Juli 2009 dan kini sudah mengalami lima kali cetakan.
Ia menjelaskan, novel tersebut diangkat dari kisah nyata perjalanan hidupnya yang pernah menjalani pendidikan di pondok pesantren hingga akhirnya berhasil meraih mimpi-mimpinya.

“Novel ini mengandung banyak pesan untuk tidak takut bermimpi setinggi-tingginya soal masa depan,” katanya.

***
A. Fuadi lahir di nagari Bayur, sebuah kampung kecil di pinggir Danau Maninjau tahun 1972, tidak jauh dari kampung Buya Hamka. Ibunya guru SD, ayahnya guru madrasah. Lalu Fuadi merantau ke Jawa, mematuhi permintaan ibunya untuk masuk sekolah agama. Di Pondok Modern Gontor dia bertemu dengan kiai dan ustad yang diberkahi keikhlasan mengajarkan ilmu hidup dan ilmu akhirat.

Gontor pula yang membukakan hatinya kepada rumus sederhana tapi kuat, ”man jadda wajada”, siapa yang bersungguh ­sungguh akan sukses. Juga sebuah hukum baru: ilmu dan bahasa asing adalah anak kunci jendela-jendela dunia. Bermodalkan doa dan manjadda wajada, dia mengadu untung di UMPTN. Jendela baru langsung terbuka. Dia diterima di jurusan Hubungan Internasional, UNPAD.

Semasa kuliah, Fuadi pernah mewakili Indonesia ketika mengikuti program Youth Exchange Program di Quebec, Kanada. Di ujung masa kuliah di Bandung, Fuadi mendapat kesempatan kuliah satu semester di National University of Singapore dalam program SIF Fellowship.

Lulus kuliah, dia mendengar majalah favoritnya Tempo kembali terbit setelah Soeharto jatuh. Sebuah jendela baru tersibak lagi, Tempo menerimanya sebagai wartawan. Kelas jurnalistik pertamanya dijalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah para wartawan kawakan Indonesia.

Selanjutnya, jendela-jendela dunia lain bagai berlomba-lomba terbuka. Setahun kemudian, dia mendapat beasiswa Fulbright untuk program S-2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Merantau ke Washington DC bersama Yayi, istrinya—yang juga wartawan Tempo—adalah mimpi masa kecilnya yang menjadi kenyataan. Sambil kuliah, mereka menjadi koresponden TEMPO dan wartawan VOA. Berita bersejarah seperti peristiwa 11 September dilaporkan mereka berdua langsung dari Pentagon, White House dan Capitol Hill.

Tahun 2004, jendela dunia lain terbuka lagi ketika dia mendapatkan beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk bidang film dokumenter. Kini, penyuka fotografi ini menjadi Direktur Komunikasi di sebuah NGO konservasi: The Nature Conservancy.

Fuadi dan istrinya tinggal di Bintaro, Jakarta. Mereka berdua menyukai membaca dan traveling.

***
Tentang Negeri Lima Menara

”Negeri 5 Menara” adalah buku pertama dari rencana trilogi. Buku-buku ini berniat merayakan sebuah pengalaman menikmati atmosfir pendidikan yang sangat inspiratif. Semoga buku ini bisa membukakan mata dan hati. Dan menebarkan inspirasi ke segala arah.

Setengah royalti diniatkan untuk merintis Komunitas Menara, sebuah organisasi sosial berbasis relawan (volunteer) yang menyediakan sekolah, perpustakaan, rumah sakit, dan dapur umum secara gratis buat kalangan yang tidak mampu.

Dalam novel ini memperlihatkan betapa dominannya parameter non-artistik dalam menentukan kualitas dan kedalaman sebuah karya sastra. Sampul belakang buku itu sarat dengan endorsement yang ditulis oleh nama-nama beken, mulai mantan presiden, sutradara tersohor, gubernur, budayawan, intelektual, hingga pimpinan pesantren. Hampir semua komentar itu menyingkapkan segi-segi etik dan didaktik dari novel setebal 416 halaman tersebut. Tak ada satu pun ulasan dari sudut pandang estetika sastrawi. Apakah segi-segi estetik dan artistik yang sepatutnya menjadi kriteria utama da­lam menimbang sebuah karya sastra tidak lagi penting?

Berkisah tentang upaya keras enam orang santri di sebuah pondok pesantren dalam menggapai obsesi dan cita-cita besar mereka. Setelah menghadapi kegiatan belajar-mengajar yang sedemikian padat dan aturan-aturan kedisiplinan ekstraketat di Pondok Ma­dani (PM), Alif (Padang), Atang (Bandung), Raja (Medan), Dulmajid (Sumenep), Said (Mojokerto), dan Baso (Gowa) bersembunyi di bawah menara masjid PM, membangun mimpi-mimpi masa depan dengan mantra ampuh yang sama-sama mereka percayai; man jadda wajada (siapa yang bersungguh pasti akan sukses).

Alif tidak pernah mengira bahwa dirinya akan jadi santri PM yang disebut-sebut telah mencetak banyak ulama dan intelektual muslim itu. Sebab, sejak kecil dia ingin menjadi ”Habibie”. Baginya, Habibie tidak dalam arti seorang teknokrat genius, tapi sebuah profesi sendiri lantaran dia sangat kagum pada tokoh itu. Itu sebabnya, Alif ingin masuk SMA dan kelak melanjutkan pendidikan di ITB, sebagaimana riwayat perjalanan intelektual Habibie. Namun, ibunda Alif menginginkan anaknya mewarisi keulamaan Buya Hamka, ulama kondang yang lahir dan besar tidak jauh dari Bayur, tanah kelahiran Alif. Maka, dalam kebimbangan, Alif menerima tawaran itu sehingga dia bertemu dengan santri-santri berkemauan keras seperti Baso yang mati-matian menghafal 30 juz Quran sebagai syarat guna menggapai impiannya bersekolah di Madinah. Begitu juga Raja, Dulma­jid, Said, dan Atang.

Hanya beberapa bulan waktu berbicara dengan bahasa Indonesia bagi santri-santri baru di PM, setelah itu mereka wajib berbicara da­lam bahasa Arab atau bahasa Ing­gris. Bila aturan dilanggar, gan­jarannya tidak main-main. Bila tidak digunduli, sekurang-ku­rangnya bakal dapat jeweran be­ran­tai. Bahkan, bila pelanggarannya berat, santri bisa dipulangkan. Sa­king kerasnya kemauan para sa­hibul-menara untuk menguasai per­cakapan dalam dua bahasa a­sing tersebut, igauan dalam tidur me­reka pun terungkap dalam baha­sa Arab.

Dengan deskripsi ruang yang nya­ris sempurna, A. Fuadi berhasil memetakan seluk-beluk dunia pe­santren modern yang selama ini ha­nya menjadi cerita dari mulut ke mulut. Pahit dan getir, riang dan gamang kaum santri dengan hu­mor khas pesantren ditandaskan dengan modus pengisahan yang menakjubkan. Tengoklah pelbagai alasan yang sengaja dirancang sahibul-menara agar mereka beroleh izin keluar PM, bersepeda mengelilingi Kota Ponorogo, dan tak lupa melintas di pintu gerbang pesantren putri, sekadar ”nampang”.

Begitu pula siasat Dulmajid yang me­mengaruhi ustad Torik agar ber­oleh izin nonton bareng per­tandi­ngan final bulu tangkis di ling­ku­ngan PM, padahal qanun (atu­ran pondok) menegaskan, san­tri PM dilarang menonton TV. ”Us­tad, lob antum itu mirip sekali de­ngan punya Icuk dan smes antum mirip Liem Swie King. Kalau nggak percaya, kita tonton siaran lang­sung besok malam.”

Ustad Torik langsung takluk dan ter­jadilah peristiwa bersejarah itu: TV masuk PM. Lewat satirisme khas kaum santri itulah, segi-segi estetik novel tersebut dapat ditandai hingga martabat kenovelannya tidak semata-mata ditakar dengan nilai didaktik dan etik saja. Bukankah jalan sastra adalah ikhtiar merancang sebuah alegori dari pelbagai realitas faktual yang menjadi panggilan penciptaan pengarangnya? Maka, kerja pemaknaan terha­dap teks novel tak segampang sebagaimana yang dilakukan para komentator novel tersebut. Bahwa kemudian ditemukan tendensi-tendensi didaktik, itu kenyataan yang tak bisa dielakkan karena setiap pembaca berhak menafsirkannya sesuai dengan kepenti­ngan masing-masing.
Tak dimungkiri bahwa di balik ki­sah yang digarap Uda Fuad dalam bu­­­ku ini, ada pengalaman empiris, ka­­­takanlah semacam fakta-fakta ke­­ras semasa pengarang mondok di Gontor yang menjadi muasal pe­­ngi­sa­hannya.

Tapi, dalam kerja ke­pe­ngarangan, fakta-fakta keras itu digiling sehalus-halusnya oleh ima­ji­nasi sehingga tidak bisa lagi di­lihat de­ngan kacamata hitam-pu­tih, tidak bisa diukur secara positi­vistik. ”Ima­jinasi” di sini bukan da­­lam pemahaman yang menyehari. Filsuf Arab Al-Farabi (850-950) dalam kitabnya, Ara’ Ahl Ma­­dinah Wa Al-Fadhi­lah, me­nye­but­nya quwwatul mutta­khilah, se­macam potensi dalam subjek, yang berpijak pada pengalaman em­­p­iris dan penalaran (reasoning), sehingga ia sangat berbeda dengan ”fantasi” -yang tidak perlu berangkat dari pengalaman indrawi, apalagi penalaran. Dalam epis­temologi Al-Farabi, ”imajinasi” dalam batas-batas tertentu bahkan da­pat melampaui pencapaian akal-bu­di dan pengalaman empiris itu sendiri.

Maka, dunia imajiner dalam Ne­ge­ri 5 Menara bukan lagi semata-ma­ta dunia A. Fuadi dan sejawat-se­ja­watnya semasa di Gontor. Kisah yang disudahi pengarang dengan re­uni bersejarah di Trafalgar Square, Lon­don, -setelah 15 tahun masa-ma­sa sulit di PM berlalu- telah terdedahkan sebagai ruang fiksional dengan segenap kemungkinan tak terduga yang menyertainya. Bukankah Alif (Washington DC), Atang (Kairo), dan Raja (London) yang bertemu pada sebuah konferen­si di London tidak pernah terbayangkan sebelumnya? Mereka tak pernah menyangka para sahibul-menara ba­kal menggenggam impian masing-ma­sing. Yang mereka tahu hanya man jadda wajada, siapa bersungguh-sungguh, bakal sukses. (referensi Damhuri Muhammad)

***

Tak terasa 3 jam kami diskusi dan ngobrol banyak hal, termasuk rencana-rencana besar nya tentang upaya, agar proses penggarapan film novel Nageri Lima Menara. Kami berpisah karena waktu tak memungkinkan. Uda Fuadi sudah punya janji dengan beberapa orang lagi tentang urusan pekerjaan nya. Kami berpisah di lift lantai dua menuju lantai satu. Setelah bersalaman, kami berpisah. Aku melihat lelaki dari Negeri Lima Menara itu tersenyum semangat. Di setiap langkahnya kuliahat semangat dan harapan, yang akan kuceritakan kepada anak-anak didiku dikampus. Mari menjadi menara-menara yang hebat bagi masyarakat dan umat. semoga

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *